Home / Opini

Senin, 18 Oktober 2021 - 16:16 WIB

Virus Karyawan

ADMIN - Penulis

Suroto

Pagi ini orang orang muda dan tua terlihat berduyun duyun pergi ke Balai Desa. Desa Sidorejo, satu desa yang ada di Klaten, Jawa Tengah. Tratag besar di pasang di halaman luas Balai Desa. Katanya akan ada ceramah dari orang kota. Pejabat dari Kabupaten, Propinsi dan Jakarta.

Hansip berseragam PDL terlihat gagah berani. Anak anak SD berseragam merah putih sembari menenteng bendera kecil kecil berbaris untuk menyambut. Mereka terlihat riang di tengah kabut pagi yang masih menyelimuti desa. Muda mudi berpakaian kebaya dan beskap terlihat sangat rapi dan magis.

Desa Sidorejo ini adalah desa terakhir di lereng Gunung Merapi. Orang desa ini percaya bahwa Gunung Bibi di selatan Merapi dipercaya menjadi pelindung dan juga pemberi kemakmuran sandang pangan berlimpah ruah bagi kami.

Gunung Bibi yang terlihat hijau menjulang memang hampir menutup dua pertiga Gunung Merapi yang selalu aktif mengeluarkan kepulan asap dan sesekali awan panas dan lahar yang mengalir di woro dan jurang. Aku dan anak anak lain sesekali beramai ramai juga menyaksikan kekuatan dasyat bagaimana lahar panas merah itu mengalir dan membawa bongkahan batu batuan sebesar rumah.

Gunung Bibi terlihat hijau tertutup oleh hutan Jawa kuno. Di puncaknya terlihat pohon besar sekali. Aku tak pernah kesana. Kata orang orang tua, pohon besar itu dihuni dewa dan dewi yang seringkali turun di malam hari untuk memberikan sirep agar anak anak lekas tidur. Hanya di malam purnama saja mereka tidak turun. Dan kami anak anak bebas bermain hingga larut malam. Kami bermain gobak sodor, dakon, tang tang buku, bahkan bentik, dan lain lain di halaman besar Pak Lurah, Pakdeku.

Jika purnama tiba, orang muda mudi di desaku juga terlihat asik cekikikan di Cakruk. Orang orang tua juga biasanya duduk berdiskusi di rumah Pak Lurah. Mereka sesekali bersenda gurau dan juga saling meledek khas orang dewasa. Nyerempet cerita saru! dimana anak anak tak boleh mendengarnya.

Desaku ini sungguh berlimpah ruah kebahagiaan. Hasil panenan dari kebun banyak sekali. Ada cengkeh besar besar yang jika musim panen tiba kami anak anak akan sangat riang untuk membantu memetik pakai tangga jengkok. Kami senang karena akan mendapat bagian dari panenan dan juga galesan rontokanya. Aku bisa beli banyak mainan dari rontokan cengkeh yang aku kumpul sendiri dan juga jemur sendiri dan lalu dititip ke orang tua untuk dijual ke pasar.

Orang desa ini makan nasi jagung, ubi jalar, entek, dan kacang kacangan seperti tolo, kapri, koro, gude. Sayur mayur segala macam rupa dari ; lumbu, otokkowok, sawi, bayam, tomat, metir dan lain lain. Semua serba segar dan tumbuh di tanah subur berpupuk tletong sapi yang setiap rumah memeliharanya. Buah buahan juga meluap setiap panen. Jeruk keprok, pacitan, bali, nangka, dan banyak sekali. Jeruk keprok adalah favorit anak anak. Buahnya yang ranum, kulitnya yang tipis, rasanya dan legit, kala musim panen datang selalu bersamaan dengan masuknya musim penghujan selalu membuat kami was was untuk berlari keluar rumah berebut rontokan jeruk.

Baca Juga :  Nataru 2021, Polda Banten Gelar Swab Test Secara Random

Musim panen jagung, juga musim yang paling dinanti. Selain akan ada sedekah wiwitan, kami juga akan pergi ke sendang sendang untuk melakukan upacara pembersihan. Air sendang Kali Reno adalah incaranku. Kami akan asik berenang dan jeburan setelah pesta sedekah. Pesta kenduri ruwahan yang dilakukan juga kami nanti nanti. Kami berkeliling kondangan ke setiap rumah hingga larut malam. Aku paling suka bubur warna warni dan juga telur ayamnya. Besok paginya kami saling berpamer berapa banyak jumlah telur yang kami kumpulkan di sekolah.

Desaku ini selalu membuatku bahagia. Kami setiap kamis dan Minggu sore juga selalu latihan karawitan dan menari di rumah Pakde. Lik Karjo Saminu adalah guru kami yang paling pintar. Tangan dinginya telah lahirkan nayogo yang pandai pandai, juga sinden dan penari yang hebat.

Kami hidup sangat mengalir, penuh sukacita. Tak ada beban hidup yang patut kami rintihkan, tak ada yang kelaparan, tak ada yang kami risaukan. Sebelum berbagai hama penyakit jeruk yang datang tiba tiba dan juga harga cengkeh ambleg seambleg amblegnya karena pembelian monopoli dari Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh ( BPPC) itu membeli cengkeh hingga hanya seharga 2000 perak dari 20.000 an perak.

” Saudara saudara, ini Pak Camat mau memperkenalkan kepada kita bapak bapak dan ibu ibu dari Kabupaten, Propinsi dan Kementerian di Jakarta, silahkan Pak Camat”, Pak Carik membuka ceramah setelah sambutan pidato panjang penuh basa basi dari semua pejabat itu.

” Terimakasih Pak Carik. Jadi begini sedulur sedulur….. Kedatangan kami disini pagi ini adalah ingin sosialisasi tentang program pemerintah untuk anak anak muda dan mudi di Sidorejo ini. Programnya namanya karyawanisasi. Program ini bentuknya adalah ajakan kepada anak anak muda mudi di desa ini untuk menjadi karyawan yang akan kami fasilitasi untuk bekerja di Sumatra dan Kalimantan. Disana akan kami sediakan tanah dua hektar, rumah, gaji dengan bekerja di perusahaan perkebunan. Pokoknya enaklah jika dibandingkan hidup di desa ini. Semua transport kami yang tanggung. Syaratnya cukup menikah dulu lalu ktp dan kk berangkat….”, demikian kata Pak Camat.

Setelah Pak Camat bicara lalu semua orang kota itu berceramah semua satu satu. Bahasanya ndakik ndakik. Tidak banyak orang desa kami yang paham. Apa yang tertangkap adalah semua yang penting serba enak, enak dan enak. Kerjo, kerjo dan kerjo.

Baca Juga :  Pemerintah Kembali Intervensi Otonomi Koperasi

Sejak orang Jakarta itu datang. Di desa kami semua orang langsung sibuk membicarakan program karyawan. Di cakruk, di pawon pagi pagi, dan di kebun yang tak berpengharapan lagi itu.

” Nduk Legiyem…. daripada hidup ora cetho seperti ini, sepertinya baiknya kita ikut saja pergi karyawan sesuai arahan orang kota itu…..lha nyatanya kan jadi karyawan itu katanya enak je.”, kata Tugiyo. Pemuda ganteng andalan main kendang desaku setengah mengajukan proposal sebetulnya untuk menikahi Legiyem secara negara, gadis idamannya yang mana Tugiyo telah lama nyuwito di rumah orang tua Legiyem dan tinggal bersama.

” Iyo mas. Aku nurut saja sama kamu. Ya kamu tinggal ngomong saja sama Bapak dan Ibu. Saya nurut saja mas…..”, sambil setengah tersipu malu sebetulnya.

Tak lama memang Legiyem dan Tukijo menikah. Mereka menikah secara negara. Disaksikan oleh KUA dan menerima surat nikah. Mereka lalu pergi ke Riau, Sumatra. Diarak oleh orang satu desa.

Sejak itulah berbondong bondong orang menikah negara. Janda bertemu duda. Gadis bertemu perjaka. Perjaka bertemu janda. Janda mendapat Perjaka. Semua menikah resmi negara untuk ikut program karyawan.

Desa Sidorejoku menjadi sangat lengang. Muda mudi itu tak terdengar cekikikan lagi di cakruk cakruk. Mereka yang tinggal di desa hanya tinggal segelintir orang saja. Itu karena mereka masih punya pekarangan yang bisa dibeko untuk dikeruk pasir dan batunya. Dimana mana jadi jurang, jurang dikeruk dindingnya untuk diambil batunya.

Bersamaan dengan itu orang orang di desaku juga mulai memeluk agama Islam. Mereka terlihat menjadi sangat kusyuk dan rajin ke Mesjid dan cara berpakaian perempuan berubah menjadi hampir berjilbab semua. Tradisi kenduri mulai perlahan dihapus. Doa doa untuk meminta perlindungan Sedulur Pancer diganti dengan doa tahlil. Pohon pohon besar pelindung air sendang itu tak lagi disedekahi. Tak ada lagi pesta pesta adat karena dianggap musrik.


Reformasi besar telah datang di desaku. Semua telah berubah total. Pohon Lamtoro habis dimakan wereng. Kayu akasia tak lagi tumbuh diereng lereng, karena industri samak sebagai pembelinya dari Sorowajan, Jogja tutup. Cengkeh ditebang diganti kopi. Tapi harga kopi anjlog lalu dibabat lagi diganti Sengon. Kayu sengon jatuh harganya. Jeruk keprok tak lagi ada yang tumbuh lagi karena virus. Virus karyawan yang disuntikkan itu benar benar memusnahkan semua. Hanya tersisa suara meraung raung Beko keruk pekarangan, kebun’ dinding jurang yang semakin menganga.

Jakarta, 18 Oktober 2021

Suroto

Follow WhatsApp Channel politicnews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 36 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Eksekutif

Gubernur Mahyeldi Minta Pekerja dan Pengusaha Antisipasi Perselisihan dan Terus Mambangun Hubungan yang Harmonis

Opini

Indonesia Memilih Pemimpin  Ketika Ketidakpastian Global Tereskalasi

Opini

SUROTO, JAGUNG, DAN MAFIA KARTEL PANGAN

Opini

Anugerah Sebuah Hidayah

Opini

Kembali ke Akar

Eksekutif

Resensi Buku: Membangun Politik Ber-Etika Merawat Demokrasi Bermakna oleh Dr. Yosminaldi, SH. MM

Opini

Idra Sjafri Pelati Tim Nas U 22 Sambangi Kediaman Gubernur Sumatra Barat

Eksekutif

2024 Pemprov Sumbar Targetkan Tidak ada Nagari Tertinggal dan Jadikan Nagari Madani