Home / Komunitas / Opini

Minggu, 22 Januari 2023 - 07:14 WIB

Merawat Ekosistem Dimulai Dari Tindakan Sederhana

KM - Penulis

Oleh: Kelompok KKN Desa Oenak, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

 

 

Upaya untuk menjaga hubungan timbal balik (interaksi) antara manusia dan lingkungan hidup (ekosistem) merupakan bagian integral dalam diri manusia sebagai bagian dari kesatuannya dengan alam.

Sebab kesadaran, upaya atau tindakan ekologis ini mendatangkan kebaikan, bukan hanya bagi kelesterian alam tetapi juga bagi kebaikan manusia sendiri.

Pemanasan global, degradasi lingkungan, kepunahan berbagai spesies , polusi lingkungan, dst. merupakan wujud-wujud dari kerusakan alam yang terjadi di pelbagai belahan bumi. Kerusakan-kerusakan alam ini tentunya merupakan konsekuensi atau akibat dari ketidaksadaran atau keapatisan individu maupun kelompok tertentu untuk menjaga kelestarian ekosistem ini.

Dalam tulisan singkat ini, penulis secara khusus memfokuskan perhatian pada upaya pemeliharaan kebersihan lingkungan sosial masyarakat sebagai salah satu cara untuk mengatasi krisis pencemaran lingkungan terutama oleh limbah sampah (organik maupun non-organik).

Lingkungan sosial yang sehat dan lestari diukur sejauh mana masyarakat mempunyai kesadaran (kepekaan) dan upaya untuk membuang sampah pada tempatnya.

Dalam hal ini setiap individu tanpa terkecuali dituntut untuk sesegera mungkin mempertajam kepekaan ekologisnya agar ia mampu melihat dan mengatasi pelbagai ‘krisis’ lingkungan hidup dengan tindakan-tindakan yang konkret bukan sebaliknya.

Baca Juga :  Sang Visioner “ The Hidden Figur Dan Srikandi Pemberdayaan” Menuju Palembang Baru

Tindakan-tindakan konkret yang dimaksudkan disini dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana yang seringkali kita abaikan, misalnya, memungut dan membuangnya pada tempatnya seperti sampah-sampah plastik, botol minuman, makanan yang berkemasan yang berserakan di mana saja kita temui.

Tindakan konkret ini agaknya terlihat sederhana dan sedikit ‘mengganggu’ status kita dihadapan khalayak umum, tetapi justru tindakan yang sederhana dan ‘mengganggu’ inilah yang menjadi suatu tindakan pencegahan (preventif) terhadap pencemaran lingkungan yang akibatnya sangat kompleks bagi kehidupan masayarakat.

Salah satu tindakan konkret untuk mencegah (preventif) krisis pencemaran lingkungan itu dilakukan oleh para Mahasiswa/i Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang yang sedang melangsungkan kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Desa Oenak, Kecamatan Noemuti, Kabupaten TTU, NTT pada, Jumat 20 Januari 2022.

Para Peserta KKN Desa Oenak ini melangsungkan salah satu program peduli lingkungan sosial dengan memungut sampah-sampah non-organik (Plastik-plastik kemasan makanan dan botol minuman) khususnya di sepanjang pinggiran jalan raya perbatasan antara desa Oenak dan Niuola sampai ke jalan menuju ke kantor Desa Oenak.

Sampah-sampah non-organik yang berserakan inilah yang mendapat perhatian karena dinilai paling berpotensi mengakibatkan pencemaran lingkungan, sebab sampah-sampah jenis ini pada dasarnya sulit terurai.

Baca Juga :  Gubernur Sumbar Lakukan Peletakan Batu Pertama Jembatan Api Api Nagari Simalanggang

Tujuan sederhana yang ingin dicapai oleh para peserta KKN ini ialah mempertajam kepekaan sosial masyarakat umumnya untuk selalu merawat lingkungan hidup yang sehat dimulai dari hal-hal sederhana tadi, membuang sampah pada tempatnya.

Memungut sampah dan membuangnya pada tempat yang layak berarti juga merawat interaksi antara manusia dengan alam atau dengan kata lain menjaga keutuhan ekosistem. Sebab jika tidak ingin agar terjadi pelbagai krisis lingkungan alam yang lebih ekstrem seperti yang sudah disebutkan di bagian awal, kita memulainya dari hal-hal sederhana.

Salah seorang ekolog Thomas Berry menyebut kerusakan lingkungan sebagai “kehancuran bumi”. Kehancuran bumi yang dimaksudkan disini tentunya merujuk pada pelbagai macam-macam krisis lingkungan yang setiap hari kita alami tetapi tidak kita sadari.

Kita tentunya tidak menginginkan itu terjadi, sebab, bukankah kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling dimuliakan olehNya diberikan tanggung jawab ekologis untuk menjaga dan merawat bumi ini?

Pertanyaan reflektif ini ‘sengaja’ diberikan oleh penulis untuk sekadar menggugah hak dan atau kebebasan kita sebagai co-creator (rekan kerja Tuhan) untuk tetap menjaga kelestarian alam dari setiap tindakan-tindakan kita.

Follow WhatsApp Channel politicnews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 126 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Komunitas

Desa Sumberjo Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang Adakan Tasyakuran Dalam Rangka Peresmian Kampung BSPS Tahun 2023

Eksekutif

Gubernur Mahyeldi Ajak Pimpinan Muhammadiyah Sumbar Bersinergi Membangun Daerah

Komunitas

Nelayan Juana Tolak Kenaikan Retribusi Pajak

Eksekutif

Pimpin Apel Hari Santri, Gubernur Mahyeldi Ingin Santri Turut Berperan Wujudkan Indonesia Emas

Eksekutif

416 Mahasiswa Mahasiswi ATIP Padang Diwisuda

Opini

Sekda Sumbar Minta Kabupaten Kota Genjot Kepesertaan JKN

Komunitas

Deklarasikan Dukungan, ABG Muhaimin Bersih-bersih Mushola

Eksekutif

Gubernur Sumatra Barat Terima Lencana Serta Piagam Satya Bakti Inovasi Dari Kemendes .