Home / Komunitas / Politic / Rilis

Minggu, 5 Mei 2024 - 21:49 WIB

Mengupas Bantaeng, Poros Tengah Mencari Sosok Pemimpin

Hasan Habibu - Penulis

Politic News (Butta Toa Bantaeng) : Lebih dari 120 orang peserta hadir dalam dialog yang diselenggarakan Koalisi Rakyat Poros Tengah Ahad 5/5/2024. Dialog yang masih beraroma hari buruh dan pendidikan 1 dan 2 Mei sebagai refleksi May Day dan spirit Hardiknas oleh KRPT dengan tema KEADILAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH dengan tiga narasumber masing-masing, Andi Sukri, SH, Pengawas ketenaga kerjaan disnakertrans wilayah empat Sulsel, Dr Arman Amran, Sp, Mp, MPM Akademisi UnSulbar  dan Praktisi pertanian serta Junaid Juddah sebagai Aktivis Peneliti Aliansi Gerakan Reforma Agraria  (AGRA).

Dalam keterangannya, inisiator Poros Tengah Nasrun Jamal atau bung Nas menyampaikan bahwa, dalam sejarah Bantaeng menuju delapan abad dimana jika di hitung lebih tua dari Indonesia, tetapi hal ini tidak disadari dengan baik maka masyarakat kita khususnya elit-elit politik masih sekedar berbicara politik praktis perebutan kekuasaan, nyaris tidak terdengar diskursus politik untuk menuju pada suatu peradaban yaitu politik dimana kepemimpinan hadir untuk kemaslahatan sosial dan ummat. Peningkatan sumberdaya manusia yang kurang di genjot untuk menguasai sebuah keahlian di bidangnya, di hari pendidikan ini kita mengevaluasi masyarakat yang mendapatkan beasiswa untuk maju ke jenjang S1, Sementara aset suatu bangsa ada pada manusianya sebuah negara di katakan maju salah satunya dengan mengukur tingkat pendidikan bangsanya, karena tiada arti suatu negara kaya raya akan sumber daya alamnya, tetapi rusak orang-orangnya. Olehnya itu Poros Tengah berkomitmen siapapun dukungan dan usungannya kedepan merupakan kehendak bersama dalam melahirkan pemimpin untuk semua, Koalisi Rakyat Poros Tengah hadir sebagai Ummatan Wasathan yaitu Ummat yang adil dan seimbang kehidupannya, pangkasnya.

2 Peserta Dialog Mitha & Ust Muammar

Dalam paparan materinya Dr. Arman menjelaskan bahwa melihat para petani kita masih ketinggalan khususnya dalam sektor pertanian di banding beberapa negara penghasil pangan lainnya, seperti vietnam dan Thailand yang menjadikan sektor pertanian sebagai komoditi utamanya, selain alat pertanian yang modern, iklim trofis suhu dan jenis tanah yang mendukung membuat hasil pertanian di kedua negara tersebut berkembang pesat, nyatanya kedua negara dimaksud termasuk malaysia pernah belajar ke Indonesia dalam hal ini, namun seiring berkembangnya zaman mereka bertranformasi, baik caranya maupun dari segi perkakasnya, sementara petani kita masih banyak melakukan cara-cara tradisional dalam mengelolah pertanian sehingga minim hasil yang di dapatkan, di tambah kurangnya minat generasi yang terjun kebidang pertanian saat ini, mereka lebih suka kerja di perusahaan, menjadi honorer, ASN di anggap lebih menjamin di banding sektor pertanian. Konsep berpikir inilah perlu di olah dengan memberikan peningkatan SDM dalam bertransformasi, maka pemerintah harus mencari solusi bagaimana kembali mencitai pertanian khususnya bagi generasi muda kita. Hal inilah yang ingin di lakukan oleh KRPT bagaimana mengintervensi kebijakan dengan cara melihat kriteria seorang bakal calon pemimpin dari sekian banyak balon yang ada saat ini. Ketika saya banyak berbincang dan berdiskusi dengan penggagas, malah saya bersemanagat bergabung untuk sebuah proses memberikan edukasi kepada masyarakat dan mencerdaskan dalam penentuan pilihan berbasis suara-suara rakyat hasil dialog dan diskusi yang dihimpun dan di jadikan sebuah program kerja untuk seorang calon pemimpin kedepan, Terangnya.

Baca Juga :  Ketua MPR RI Bamsoet Segera Luncurkan Buku ke-25 dan ke-26 bertajuk '60 Tahun Mengayuh Dayung Di Antara Karang'

Pemberian Piagam kepada 3 Narasumber

Dihadapan ratusan simpatisan Poros Tengah sejarah awal mula adanya perusahaan di Bantaeng, yang di diiringi pro kontra ada yang timbang-timbang, setuju dan yang tak setuju, namun yang setuju mengatakan luar biasa kalau kita membangun daerah kawasan industri yang materianya dari luar, bisa menyerap ribuan tenaga kerja dan akan menjadi ikon tersendiri terhadap Bantaeng, sementara yang timbang-timbang siapa yang bagus argumennya disitu lagi dia berada dan yang tidak setuju khawatir potensi lokal kita hilang seperti rumput laut kedua, investor yang datang membawa pengaruh-pengaruh  yang tidak sesuai dengan budaya lokal kita yang lambat laun mengikis itu semua, sampai yang kontra mengatakan tidak berarti ekonomi maju kalau potensi lokal kita terancam punah dimana perdebatan saat itu sangatlah alot, namun hasilnya siapa yang saat itu  pengambil kebijakan menjadi penentu jadi tidaknya sebuah daerah kawasan. Maka momen seperti ini sangatlah tepat untuk menentukan nasib daerah kedepan adalah bagaimana visi misi komitmen dan ketegasan siapa yang memimpin. Bahkan tidak pedulinya dengan kepemimpin hingga berkata, MANNA NAI AJJARI BUPATI, GUBERNUR IAREKAH PRESIDEN ANJAMA TOMPA KUNGNGANRE bahasa lokal yang artinya ( Siapun yang menjadi bupati, gubernur ataupun presiden nanti bekerja baru bisa makan) padahal seorang pemimpin bisa membuat kita sejahterah atau tidak, akhinya ketika itu perda kawasan di tetapkan dan diakui secara nasional oleh pemerintah pusat, maka pemimpin itu  penting untuk hadir dalam rangka menciptakan suasana kondusif dan memupuk kesejahteraan sesuai cita-cita poros tengah sebagai penyeimbang dalam perhelatan pilkada yang lebih independen, ujarnya bercerita pengalaman.

Baca Juga :  Bupati Banyuasin dan Wakil Bupati Banyuasin Sambut Kunjungan BKSAP DPR RI dalam Rangka BKSAP Day 2022

Peserta dialog poros tengah

Menghadirkan pemerintah harus betul-betul paham tentang Bantaeng yang memiliki kakao, cengkeh, rumput laut,  tenak dan jenis potensi lokal yang dimiliki ujar Junaid Juddah, berbicara tambang, Bantaeng tidak memiliki hal itu hanya mendatangkan dari morowali dan tenggara yang di dapat Bantaeng apa??? sambil diringi tawa oleh yang hadir. maka yang perlu di terapkan bagaimana merawat lingkungan melalui amdal untuk melindungi masyarakat dari kerusakan lingkungan  adanya undang-undang yang di sebut minerba dan undang-undang Omnibus Law yang berpihak kepada investasi maka hadirlah Huady, Hensen, Yuniti dan lain-lain yang dimiliki oleh China. menghadirkan lapangan kerja bagi masyarakat tetapi haruslah memprioritaskan warga lokal untuk menumbuhkan perekonomian sehingga kemiskinan dapat di tekan, kehadiran perusahaan industri dapat di rasakan manfaat sepenuhnya.  Kawasan idustri bantaeng dengan luas 3147 Ha di 6 wilayah Desa yakni Layoa,Baruga, Borong Loe, Nipa-Nipa Pa’jukukang dan Papan Loe dengan total jumlah penduduk 25.223 orang. penduduk sebanyak itu perlu di pikirkan sebelum penyakit akibat zat-zat tersebut menghalangi masyarakat untuk tetap sehat, Terangnya menjelaskan.

Follow WhatsApp Channel politicnews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 119 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Legislator

Terima Puteri Otonomi Indonesia 2023, Ketua MPR RI Bamsoet Ajak Bantu Optimalkan Pemberdayaan Desa

Rilis

Ciptakan Rasa Aman !! Kapolda Jateng : Rumah Restorasi Of Justice

Eksekutif

Dubes Fadjroel Mengisi Kuliah Umum dan Meresmikan Indonesian Corner di Universitas Kazguu Kazakhstan

Rilis

Presiden Jokowi Bertemu Dengan Ruler Of Dubai Dan pertukaran sejumlah nota kesepahaman atau MoU

Eksekutif

PKS Pasti mendukung Sahadi – Edmon di Pilkada Kutai Barat

Komunitas

DPD GMNI NTT Desak Kapolda Segera Usut Tuntas Aksi Premanisme di Sumba Timur

Eksekutif

Anggaran Tanggap Darurat Bencana, Ini Kata Kepala Bappeda Sumbar

Rilis

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Tingkatkan Nasionalisme di Lingkungan Gereja