Oleh   : Dr. Yuyun PIrngadi

Waketum Front Kebangsaan

 

Jelang Pemilu 2024 manuver lintas partai politik bergerak dinamis. Tak hanya membangun format koalisi, tapi juga menjajakan calon Presiden yang telah ditetapkan. Sebut saja, Partai Gerindra ketua umumnya Prabowo Subianto dijagokan jadi capres. Begitu pula, partai Nasdem menjaring mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Sedangkan, ketua umum PDI Perjuangan Megawati mengumumkan capres dari kadernya sendiri yakni, Ganjar Pranowo yang baru saja usai menjadi petugas Gubernur Jawa Tengah kini ditingkatkan menjadi petugas partai sebagai capres PDIP.

Menurut Dr. Yuyun Pirngadi, Waketum Front Kebangsaan, lengkap sudah lintas parpol mengusung capresnya masing-masing. PDI Perjuangan misalnya, lebih lambat mengumumkan capresnya, namun punya caranya sendiri dalam menentukan pilihannya. Begitu pula, bicara soal cawapres dalam koalisi tentunya lebih konservatif. Mengapa demikian? Ketua Umum PDIP tak ingin tergesa-gesa, kendatipun Ia tak menutup mata ada aspirasi masyarakat dan kadernya selalu leading dari hasil survei lembaga independen. Ketika Ganjar Pranowo diputuskan jadi capres PDIP, sejumlah elit parpol tak begitu terkejut. Pasalnya, hasil survey Ganjar dianggap selalu leading. Betapa tidak, PPP pun langsung merapat ke PDIP, PAN pun awalnya melirik, meskipun belakangan PAN lompat bebas ke Prabowo bersama Golkar.

Serba-Serbi Politik Pilpres

Diluar sana pun angin puting beliung menghantam Partai Demokrat. Ketika Anies Baswedan menyunting Muhaimin Iskandar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, AHY dan SBY panik bagai mimpi disambar petir disiang bolong. Untuk kali pertama kader Demokrat, AHY dan SBY menuding Anies dan NasDem pengkhianat dan telah penginjak-injak kesepakatan Koalisi Perubahan (NasDem, Demokrat, PKS). Padahal, kita ketahui bersama tim delapan dari KP alot sekali memutuskan usulan nama AHY. Ditambah AHY bersama Demokrat pun genit sekali bak parpol the big five wira-wiri sowan kerumah parpol lain menjajakan dirinya yang tak laku dijual itu.

Tak selesai disitu, kemelut Koalisi Perubahan berkepanjangan dan terancam bubar. Ternyata AHY memanfaatkan isu kemelut KP untuk mendapat simpati dan promosi gratisan dari media agar dilirik PDIP serta Gerindra. Ternyata kedua parpol itu sikapnya dingin ketika AHY ingin melabuhkan hatinya ke Ganjar atau ke Prabowo? Tak pelak, SBY pun turun tangan ingin beranjak menemui Megawati. Dengan raut wajah memelas dan image seolah Demokrat dzolimi, lalu curhatan model playing victim diskenariokanPadahal, SBY ingin melakukan tawaran dukungan kepada Ganjar Pranowo, dengan catatan tertentu.

Catatan tertentu itu yang terbaca Megawati, sehingga ketum PDIP belum memberi waktu ke SBY. Nampaknya, luka lama masih membekas antara Megawati terhadap SBY. Apa yang terjadi? Tahun 2003 ketika sidang kabinet di Istana negara presiden Megawati menanyakan kepada jajaran Menterinya, termasuk SBY yang menjadi Menteri ESDM diminta tunjuk tangan. Pertanyaannya adalah, siapa yang ingin mencalonkan presiden pada pemilu 2004? Semua terdiam dan tak ada satu pun yang menunjukkan jari tangan. Tapi, diam-diam SBY mencalonkan diri melalui partai demokrat dan berkoalisi dengan beberapa parpol.

Ketika SBY diketahui tingkah polahnya, almarhum Taufik Kemas suami dari Megawati berkelakar membuat pernyataan didepan insan pers yang berbunyi: SBY seperti Jenderal anak-anak. Dunia pers pun diramaikan isu itu, bahkan sandiwara politik SBY alias playing victim seolah beliau dizdolimi dan ternyata membuahkan hasil. Wabil khusus pilpres pun dimenangkan SBY dan Oktober 2004 SBY dilantik menjadi presiden ke 6 bahkan bisa mendapat dua periode hingga 2014.

Sandiwara politik ala SBY membuka tabir nilai anggapan konvensional yang keliru. Hari ini, peta politik dinamis berbeda, namun SBY dan Demokrat masih menggunakan gaya lama. Ia memanfaatkan konstelasi politik dengan asumsi bahwa pilpres akan berlangsung dua putaran. Vis a vis paslon ditempatkan pada kondisi yang saling berhadap-hadapan. Pada putaran pertama, ada paslon yang terus terbang dan ada pula yang tumbang, maka pada putaran kedua, suara Demokrat akan diberikan ke paslon siapa? Begitulah membaca isi kepala petinggi-petinggi Demokrat.

Oleh karenanya, ketiga paslon ini memiliki peluang yang sama, meskipun hasil survey menunjukkan Ganjar Pranowo bersaing ketat dengan Prabowo Subianto, bahkan, Anies – Cak Imin pun tak bisa dianggap remeh-temeh dan hasil surveynya pun merangkak naik, dibandingkan issue berpasangan dengan AHY yang cenderung melorot.

Bursa Cawapres

Dari relasi di atas, serba-serbi politik jelang pilpres 2024 terkesan parodi, seksi dan menggoda publik. Yang menarik, ada nama-nama calon wakil presiden hasil survey yang sering keluar masuk toilet. Entah apa yang dilakukan antara BAB atau Onani politik. Wira-wiri cawapres begitu gebyar, optimis dan ditandai gerak langkah kakinya yang terkesan “cepat ada yang dikejar, lambat ada yang ditunggu”. Tak cuma itu, dukungan publik pun secara sadar mengalir sampai jauh hingga banyak masyarakat yang kurang tidur digoda Tiktok.

Jika diamati, memang masing-masing paslon memiliki kemewahan personal yang berada dalam kualitas rata-rata air. Apalagi pesta demokrasi 2024 ini tak diikuti oleh incumbent (pertahana). Praktis, kontestasi politik lebih terbuka dan tak ada partisipasi dan mobilisasi ASN, bahkan TNI/Polri aktif menjamin netralitasnya. Beda dengan TNI/Polri purna bhakti, sahwatnya terhadap kuasa politik tetap prima.Tak berlebihan jika netizen mencemoohkan, padahal masyarakat kini cenderung bijaksana dalam menentukan pilihannya.

Baca Juga :  Hadiri HUT ke-77 Hari Bhayangkara, Ketua MPR RI Bamsoet Apresiasi Kinerja Polri Dibawah Kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo

Sedangkan, secara institusional ketiga capres berasal dan diusung oleh parpol papan atas (the big five) hasil pemilu 2019Bahkan, cawapresnya sekalipun partisipan dan non partisipan memiliki political landscape dan segmentasi yang diperlukan partai politik.

Sebut saja, Mahmud MD, seorang akademisi, hakim dan politisi berkebangsaan Indonesia adalah seorang Menko Polhukam. Figur yang satu ini, tengah digadang- gadang oleh pihak-pihak tertentu karena Mahmud MD dinilai memiliki integritas, tidak tercela, rekam jejaknya pun terang benderang serta berani mengambil resiko. Jujur, santun, dan berani mengungkap kasus-kasus hukum korupsi dipemerintahan. Pribadinya yang sholeh, sederhana dan jauh dari bisik-bisik tetangga tentang aset kekayaannya.

Nampak Partai Koalisi PDIP, PPP, Hanura, Perindo dan sejumlah relawan Jokowi serta Front Kebangsaan dapat menerima tanpa reserve kehadiran Mahmud MD untuk mendampingi Ganjar Pranowo. Satu hal yang menarik, kekuatan paslon ini berada di tingkat elektabilitas yang menjanjikan dan direspon positif oleh publik. Bahkan, Mahmud MD pun kini menjadi buah bibir yang tengah dipelajari kedalamannya oleh PDIP. Menurut sekjen PDIP Hasto Kristianto dari lima nama capres yang masuk, Mahmud MD berada di urutan pertama dan memiliki chan kuat mendampingi Ganjar Pranowo sebagai wakil presiden 2024.

Membedah prestasi dan implikasi terhadap kemenangan Paslon tentunya diperlukan analisis yang komprehensif-integral dan bertumpu pada tiga variable utama. Pertama, variabel Parpol Effect yakni, secara kuantitatif perlu data bicara di lokasi lumbung suara. Apakah kuat , sedang dan lemah? Artinya, data pemilu legislatif 2019 menjadi pembanding yang terukur dan alat bantu untuk memprediksi dan sekaligus menyusun strategi politik kemenangan ke depan.

Perebutan Lumbung Besar Suara

Perolehan suara 10 Provinsi sebagai lumbung suara terbesar PDIP pada pemilu 2019 dapat dilihat di bawah ini:

 

Dari 10 provinsi, kemudian 5 parpol yang memperoleh suara terbanyak di pulau Jawa adalah, PDIP memperoleh 16,8 juta, Gerindra 10,5 juta, PKB 9,8 juta, Golkar 9 juta dan PKS 7,3 juta.

Di Pulau Jawa ini ada lumbung suara primadona, tiga partai berhasil mendulang suara terbesar seperti, PDIP di Jakarta meskipun hanya mendapat 25 kursi DPRD dari 106 kursi atau setara 19,33 persen. Tetapi, PDIP masih leading di atas PKS sebagai partai papan Tengah yang mampu membayang-bayangi kekuatan PDIP dengan perolehan 17,55 persen dan Gerindra 16,37 persen.

Sedangkan, di Jawa Barat Gerindra unggul dengan perolehan suara 4.320.050 suara, kemudian disusul PDIP 3.510.525 suara, ketiga PKS dengan perolehan suara 3.286.606. Tak hanya itu, di Banten, PDIP unggul tipis 914.749 dipepet Gerindra876.588 suara, diurutan ketiga Golkar mendapat 683.558 suara. Dari tiga wilayahstrategis dan bergengsi itu, dua wilayah PDIP menang tipis, dan satu wilayah PDIP kalah telak dengan Gerindra. dan posisi ketiga diraih PKS. Perebutan lumbung suara ini sama halnya “zero sum game”. Artinya, menang parpolnya, bisa kalah paslonnya atau sebaliknya. Jarang sekali berbanding lurus, menang parpolnya, menang pula paslonnya.

Jika diamati, peroleh suara parpol di Jawa merupakan refleksi daya juang Parpol Effect yang memainkan peran penting. Variabel Kedua,Ganjar Effect, pendekatan ini mengacu kepada political landscape. Artinya, tingkat keterpengaruhan figur Ganjar mampu menyentuh kedalaman nuansa imajiner publik, bahwa sosok paslon adalah new hope yang membawa keadaan Indonesia yang lebih baik ke depan.

Harapan baru ini yang ditunggu-tunggu masyarakat tentang wajah Indonesia ke depan dilihat dari sisi perekonomian nasional, kesejahteraan dan keamanan. Ganjar Effect ini berpotensi menyentuh harapan Gen Z yang berada dikisaran lahir 1997 – 2012 dan akrab dengan teknologi digital. Menurut data BPS, Gen Z hari ini jumlahnya sekitar 74,93 juta jiwa, kemudian disusul dengan Milenial sebanyak 69,38 juta jiwa.

Jumlahnya yang relatif besar ini mendominasi pemilih pilpres 2024, maka berlaku adagium “ siapa yang mengusai teknologi digital, mereka lah menguasai Gen Z, siapa yang mengusai Gen Z, mereka lah yang memenangkan pertandingan pilpres”

Baca Juga :  Ribuan Masyarakat Hadiri Silaturahmi, Ini Pesan Pakde Slamat

Pendekatan Ganjar Effect dan cawapres Mahmud MD merupakan figur yang direspon positif oleh Gen Z dan Milineal. Pasalnya, kedua Figur ini sebagai pasangan calon yang ditengarai akrab memberi harapan baru di media yang sarat teknologi digital. Mereka melakukan komunikasi politik dengan masyarakat melalui fenomena sosial- hukum dan dinamika kondisi Indonesia hari ini dan esok.

Dengan pendekatan political landscape dan segmentasi, pilpres tahun 2019 Jokowi – maruf Amin #01 mampu meraup dukungan di 21 provinsi bersama koalisi sembilan parpol. Sedangkan, Prabowo – Sandiaga Uno #02 mendapat dukungan 13 provinsi dari 34 provinsi. Tak heran, dalam Pleno final KPU 2019 menetapkan #01 memperoleh suara 55,50 persen, sedangkan #02 meraup suara 44,50 persen.

Selain itu, variabel ketiga Relawan Effect, memainkan peran penting dalam dinamika politik baru. Meskipun relawan masih dipandang sebelah mata oleh elit politik dan diremehkan perannya. Tetapi banyak orang lupa, bahwa sebelum parpol ada, relawan sudah ada di dalam peran kemanusiaan. Contoh paling ideal, Palang Merah dan Bulan Sabit Internasional, lahir pada tanggal 24 Juni 1859 dikota Selferino – Italia Utara. Saat itu pasukan Perancis vs Itali terlibat peperangan, maka peran bantuan kemanusiaan yang dilakukan sukarelawan membuka mata dunia. Peran itu berlanjut, pada Perang dunia I dan Perang dunia II sukarelawan membantu pasukan yang terluka dan terus bergerak hingga kini relawan menemui perannya yang lebih spesifik yakni, relawan politik. Relawan politik merupakan sekumpulan sukarelawan yang gemar membantu dan bergotong royong saling bahu membahu.

Betapa tidak, pada Pilgub dki Jakarta dan Pilpres 2014 peran relawan sangat masif menentukan kemenangan paslon. Pada pilpres 2019 relawan yang tercatat dan tidak tercatat di TKN jumlahnya 1.300 relawan diseluruh Indonesia. Peran relawan ini berkontribusi sebesar pada Pilpres 2019 berkontribusi suara 17 persen untuk

kemenangan paslon #01. Artinya, peran relawan yang berkerja secara kolektif dengan uang dan modal sendiri mereka rela bekerja melampaui batas waktu dan sering kali dilecehkan oleh elit politik. Relawan pun tidak pamrih, apalagi merengek jabatan. Biasanya, kue-kue kemenangan politik justru dinikmati oleh orang-orang yang tak berkeringat.

Ganjar – Mahfud MD

Ketika Ganjar Pranowo dtetapkan PDIP sebagai capres, maka dukungan masyarakat maupun relawan mengalir begitu derasnya. Sebut saja, Front Kebangsaan (FK) Sebagai wadah berhimpun organ-organ relawan Jokowi dan Relawan Erick Thohir pada 8 Maret 2023 menyatakan dirinya sebagai Front Kebangsaan. Adapun berdirinya FK dilatarbelakangi oleh “kredo Kebangsaan”. Keprihatin terhadap pesta demokrasi lima tahunan selalu saja memenculkan isu yang melemahkan ikatan keberagaman sejati dalam bingkai persatuan. Misalnya,isu intoleransi, isu Nasionalis vs Islam, bahkan menstempel hoax, fitnah dan menguliti capres secara personal seperti Ganjar anti Islam menjadi sesuatu yang biasa saja.

Kali ini FK menjadi garda terdepan dan pemukul isu-isu yang tidak konstruktif. Komitmen itu menjadi cara FK dalam mendukung PDIP yg mengusung paslon dalam mencetak Hattrick PDI ke depan.

FK menyatakan mendukung PDI Perjuangan sebagai salah satu parpol yang memiliki konsistensi menjaga keutuhan NKRI, ideologi Pancasila dan kehidupan bermasarakat, berbangsa dan bernegara. Dukungan kepada PDIP adalah dukungan institusioal, bukan dukungan personal. Itulah yang menjadi komitmen FK.

Jika esok lusa, PDIP memutuskan/mendeklarasikan capres Ganjar Pranowo dan cawapres Mahmud MD, FK menghormati dan mendukung keputusan internal PDIP. Ganjar – Mahfud MD diharapkan dapat meneruskan cita-cita juang dan program Jokowi yang telah berjalan baik. Kendati secara political landscape figur Ganjar belum memiliki electoral effect terhadap perolehan suara parpol pada pemilu legislatif, dan implikasinya terhadap geopolitik pada pilpres di beberapa Provinsi. Namun konsolidasi infrastruktur PDIP dan relawan Jokowi maupun relawan Ganjar merebak diseantero pelosok tanah air.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana “perkiraan keadaan” (kirka) political lanscape

dari 38 provinsi dan berapakah prediksi Ganjar Efek terhadap Koalisi Parpol?

Dari prediksi Koalisi, PDIP dan sejumlah relawan manganggap pasangan calon Ganjar – Mahfud MD merupakan pasangan calon ideal yang bisa saling mengisi dan memperkuat. Bahkan, pasangan ini bisa memecah kekuatan lawan. Bahkan paslon Ganjar- Mahfud MD pilpres 2024 pencetak kemenangan hattrick PDIP dan bangsa Indonesia a mendapat presiden baru yang pro-pembangunan, pro-kesejahteraan dan pro-kemiskinan. Semoga…!!

Jakarta, 10 September 2023